PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR CAIR DENGAN METODE PIROLISIS DI TPS3R-UIKA BOGOR

Penulis

  • Sahrul Sidik Universitas Ibn Khaldun Bogor Penulis
  • Budi Susetyo Universitas Ibn Khaldun Bogor Penulis
  • Rosmawaty Anwar Universitas Ibn Khaldun Bogor Penulis

Kata Kunci:

Bahan Bakar Cair, Pirolisis, Sampah Plastik, TPS3R, Waste-To-Energy

Abstrak

Akumulasi sampah plastik global menuntut solusi inovatif yang tidak hanya mampu mengurangi timbulan limbah, tetapi juga menghasilkan nilai tambah secara ekonomis. Teknologi pirolisis menjadi salah satu pendekatan strategis dalam mengonversi sampah plastik menjadi bahan bakar cair. Teknologi pirolisis terbukti berpotensi sebagai solusi waste-to- energy yang berkelanjutan dan mendukung konsep ekonomi sirkular.  Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja dua tipe reaktor pirolisis, yaitu pirolisis cepat (fast pyrolysis) dan pirolisis lambat (slow pyrolysis), dalam mengolah plastik LDPE dan HDPE, serta menentukan model reaktor yang paling sesuai untuk diterapkan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).  Metode eksperimental kuantitatif digunakan dengan mengamati bahan volumen baku, parameter suhu operasi, waktu proses, massa dan volume minyak pirolisis, serta nilai yield. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reaktor pirolisis cepat dengan kapasitas 9,1 kg LDPE pada suhu 400 °C selama 45 menit menghasilkan minyak pirolisis sebesar 4,83 kg (hanya 53,08%). Sementara itu, reaktor pirolisis lambat yang mengolah 5,2 kg HDPE pada suhu 350°C selama 206 menit menghasilkan minyak sebesar 2,35 kg (45,19%). Temuan ini menegaskan bahwa suhu operasi berperan krusial dalam proses degradasi termal polimer dan pembentukan fraksi cair. Pirolisis cepat unggul dalam kapasitas dan kecepatan proses meskipun perlu penyempurnaan agar perolehan minyak lebih banyak melalui pengaturan suhu yang lebih optimal, sedangkan pirolisis lambat menunjukkan efisiensi konversi yang lebih tinggi meskipun kapasitas tampung bahan bakunya relatif rendah dan waktunya lebih lama. Untuk skala komunal, direkomendasikan integrasi keunggulan kedua sistem setelah dilakukan penyempurnaan dan optimalisasi kinerjanya pada pengoperasian suhu optimal 300 - 450 °C agar perolehan minyak maksimal.

Unduhan

Diterbitkan

2026-07-13