KAJIAN STILISTIKA TUTURAN ADAT PIRE UWI PADA MASYARAKAT DESA WOLOGAI TENGAH KECAMATAN DETUSOKO KABUPATEN ENDE

Penulis

  • Maria Rindiani Niksa Rue Universitas Flores Penulis

Kata Kunci:

Stilistika, Tuturan Adat, Pire Uwi, Gaya Bahasa, Wologai Tengah

Abstrak

Tuturan adat Pire Uwi merupakan sastra lisan masyarakat Lio di Desa Wologai Tengah, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende yang disampaikan oleh Mosalaki dalam ritual tahunan. Ritual ini dilaksanakan setahun sekali sebagai wujud syukur atas hasil panen dan penghormatan kepada Du’a Ngga’e (Sang Pencipta) dan Embu Mamo (Leluhur). Tuturan tersebut menggunakan bahasa tingkat tinggi yang sarat akan nilai estetika, filosofis, dan hukum adat. Namun, seiring perkembangan zaman dan pengaruh bahasa modern, pemahaman generasi muda terhadap makna filosofis di balik tuturan tersebut mulai mengalami degradasi. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk mendokumentasikan dan melestarikan tuturan adat Pire Uwi sebagai warisan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) bentuk penggunaan gaya bahasa Lio dalam tuturan adat Pire Uwi dan (2) fungsi penggunaan gaya bahasa tersebut bagi masyarakat Wologai Tengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui teknik wawancara semi-terstruktur dengan Mosalaki sebagai informan kunci, perekaman, dokumentasi, dan transkripsi data tuturan adat (Batu Na’u). Analisis data menggunakan pendekatan stilistika dengan teori Leech & Short (2007) yang difokuskan pada tiga level, yaitu leksikal, sintaksis, dan semantik, serta teori pendukung Ratna (2016) dan Simpson (2004). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pada level leksikal ditemukan penggunaan diksi arkais seperti pire, ndore, langga, diksi simbolik seperti kumu bubu benu no’o tana, dan diksi transendental seperti Du’a Ngga’e, Embu Mamo, du'a gheta lulu wula. (2) Pada level sintaksis ditemukan dominasi paralelisme seperti tu’a ngere su’a, maku ngere watu, repetisi seperti ma’e ndore, ma’e langga, dan kalimat imperatif yang menciptakan ritme sakral dan otoritatif. (3) Pada level semantik ditemukan metafora, personifikasi seperti tana mbeo mbana, uwi mbeo tuka, simbol, dan hiperbola simbolik yang mengandung makna ekologis dan spiritual. Fungsi penggunaan gaya bahasa meliputi fungsi sakral-transendental (religius), edukatif, kontrol sosial, dan konservasi budaya-ekologis. Temuan ini menegaskan bahwa estetika puitika dalam tuturan Pire Uwi tidak hanya berfungsi sebagai keindahan bahasa, tetapi juga sebagai alat pelestarian budaya, pendidikan karakter, dan penjaga keteraturan hidup masyarakat Lio.

Unduhan

Diterbitkan

2026-10-13