Analisis Kapasitas Kelompok Tani Keluarga Mandiri: Mengurai GagalnyaDigitalisasi Dan Non-Fungsionalitas Kelembagaan Dalam MenghadapiTekanan Pasar Regional
Kata Kunci:
Kapasitas Kelompok Tani, Tekanan Pasar Regional,, Digitalisasi Pertanian, Non- Fungsionalitas Kelembagaan, Siantan Hilir.Abstrak
Penelitian ini menganalisis kapasitas Kelompok Tani Keluarga Mandiri (KTKM) di Kampung Gambut, Kelurahan Siantan Hilir, Pontianak, dalam menghadapi dinamika dan tekanan pasar regional. KTKM, yang merupakan kelompok tani kelas pemula dengan 22 anggota, memiliki potensi produksi tinggi, mencapai 9-12 ton/hari pada masa panen raya, namun daya serap pasar internal yang terbatas menjadi isu krusial. Permasalahan utama bersumber dari ketergantungan distribusi pada satu pasar induk, yaitu Pasar Flamboyan, yang memicu kerentanan terhadap perang harga. Ancaman terbesar datang dari pasokan sayuran luar daerah (Sanggau Ledo) yang memasuki Pontianak sebagai barang reject dari jalur Serikin, Malaysia, dijual dengan harga anjlok (Rp 1.500 – Rp 2.000/kg) yang tidak mampu ditandingi oleh petani lokal yang masih mengandalkan tenaga manual. Dari sisi kelembagaan, Badan Usaha Milik Rukun Warga (BUMRW) yang sempat dibentuk sebagai solusi pemasaran kolektif kini non-fungsional karena dinamika organisasi yang tinggi dan terjadinya krisis kepercayaan. Upaya alternatif, termasuk usulan digitalisasi pemasaran, tidak dapat berjalan efektif akibat keterbatasan biaya dan sumber daya manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun mendapat dukungan teknis dan pendanaan dari Dinas Pertanian (sejak 2005) dan CSR Pertamina (sejak 2022), KTKM berada dalam kondisi kapasitas pasar yang lemah dan risiko kelembagaan yang tinggi akibat dinamika organisasi yang tinggi dan persaingan harga regional. Penelitian ini merekomendasikan perlunya intervensi strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi petani berbasis agraria di lahan gambut.


