TRADISI MARUNDUAK DI BAWAH KERANDA MAYIT DI NAGARI SUNGAI PUAR KECAMATAN PALEMBAYAN PERSPEKTIF ‘URF

Penulis

  • Shintia Wulandari Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Penulis
  • Zul Efendi Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Penulis

Kata Kunci:

Tradisi, Marunduak, Keranda, Mayit, ‘Urf

Abstrak

Tradisi marunduak di bawah keranda mayit adalah suatu tradisi masyarakat Nagari Sungai Puar dimana keluarga berjalan di bawah keranda mayit sebelum mayit dibawa ke kuburan. Masyarakat menganggap bahwa tradisi marunduak di bawah keranda mayit adalah suatu keharusan adat yang menunjukkan penghormatan kepada yang meninggal. Jika tidak dilakukan, seseorang dapat dianggap tidak beretika atau sombong.Tradisi marunduak di bawah keranda mayit telah dilaksanakan secara turun-temurun dan berulang kali serta dijadikan kebiasaan sampai sekarang oleh masyarakat. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk meneliti bagaimana proses pelaksanaan tradisi marunduak di bawah keranda mayit di Nagari Sungai Puar Kecamatan Palembayan, dan bagaimana tinjauan ‘urf  terhadap tradisi marunduak di bawah keranda mayit di Nagari Sungai Puar Kecamatan Palembayan tersebut.Penelitian yang penulis lakukan merupakan penellitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Dimana pada metode ini penulis mengumpulkan data-data yang ada di tengah-tengah masyarakat Nagari Sungai Puar Kecamatan Palembayan, dengan melakukan wawancara secara langsung tentang masalah yang penulis teliti. Adapun informan dalam penelitian ini merujuk pada ulama, tokoh adat, dan masyarakat lainnya yang paham tentang tradisi marunduak di bawah keranda mayit ini. Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa marunduak di bawah keranda mayit adalah tradisi masyarakat Nagari Sungai Puar yang menjadi suatu keharusan adat dimana keluarga berjalan di bawah keranda mayit setelah jenazah dishalatkan sebelum dibawa ke kuburan. Tradisi ini dilakukan oleh keluarga secara bergantian dan berurutan dari yang tua hingga yang muda sebanyak tujuh kali putaran dengan tujuan meminta maaf kepada si mayit dan sebagai bentuk penghormatan terakhir. Selain itu, tradisi ini dianggap dapat membantu keluarga yang ditinggalkan untuk menerima kepergian si mayit dengan ikhlas dan mengurangi kesedihan mereka. Namun jika dilihat dari baik dan buruknya ‘urf, bahwa tradisi marunduak di bawah keranda mayit termasuk ke dalam ‘urf fasid. Karena dalam pelaksanaan tradisi ini tidak adanya historis yang jelas mengenai hakikat dan keterkaitan antara marunduak ini dengan tujuannya. Tradisi ini juga tidak disyariatkan oleh nash dan kaidah-kaidah agama (khurafat), serta alasan-alasan dan tujuan-tujuan dari pelaksanaan tradisi ini lebih mengarah kepada khayalan (tahyul) yang tidak nyata yang tidak dapat diterima oleh akal sehat.’Urf yang fasid tidak dapat dijadikan hujjah karena akan menyesatkan manusia, sehingga tradisi ini sebaiknya ditinggalkan masyarakat.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-13