STUDI KASUS IMPLEMENTASI ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PENERAPAN TERAPI GENERALIS DAN TERAPI PSIKORELIGIUS: DZIKIR PADA TN. H DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA
Kata Kunci:
Halusinasi Pendengaran, Terapi Generalis, Terapi Psikoreligius, DzikirAbstrak
Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori yang menyebabkan individu mempersepsikan sesuatu yang tidak nyata. Kondisi ini dapat memicu perubahan emosi dan perilaku serta menghambat fungsi sosial. Jika tidak ditangani, halusinasi dapat memperburuk kondisi gangguan jiwa dan menimbulkan dampak negatif bagi pasien maupun lingkungan. Terapi generalis dan terapi dzikir sebagai intervensi nonfarmakologi terbukti memberikan efek menenangkan, megurangi kejadian halusinasi dan membantu pasien lebih fokus pada realita. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan metode studi kasus melalui pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Studi kasus dilaksanakan selama enam hari di Wisma Arjuna RSJ Grhasia Yogyakarta pada Tn. H, pasien dengan diagnosis skizofrenia tidak terinci disertai dengan gangguan persepsi sensori haluninasi. Intervensi berupa terapi SP1 yaitu menghardik, SP2 patuh minum obat SP3 bercakap-cakap dengan orang lain, SP4 aktif dalam kegiatan harian terjadwal dan terapi dzikir dengan lafadz Bismillahirahmanirahim, Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x Allahu Akbar 33x dan ditutup dengan kalimat La ilaha illallah, Muhammadur rasulullah, yang dilakukan secara bertahap dan terstruktur dalam aktivitas harian pasien. Hasil studi menunjukkan adanya perubahan positif pada kondisi pasien. Setelah dilakukan SP1-4 dan terapi dzikir secara konsisten, pasien menunjukkan penurunan intensitas halusinasi, peningkatan ketenangan, perbaikan kualitas tidur, kemampuan berkomunikasi yang lebih koheren serta peningkatan produktivitas. Pada akhir evaluasi, pasien mampu mengidentifikasi halusinasi dan mampu mengendalikan halusinasi dengan SP 1-4 dan berdzikir. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah bahwa implementasi asuhan keperawatan dengan SP 1-4 dan terapi psikoreligius dzikir efektif dalam membantu menurunkan halusinasi pada pasien skizofrenia tak terinci. Integrasi pendekatan SP1-4 dan spiritual dalam asuhan keperawatan jiwa tidak hanya berdampak psikologis, tetapi juga mempengaruhi fisiologis tubuh melalui mekanisme relaksasi, penurunan ketegangan otot dan keseimbangan sistem saraf pusat otonom, sehingga pasien merasa rileks dan mampu mengendalikan gejala halusinasi dengan lebih bai.
