R&D INVESTMENT GAP DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN OPERASIONAL: STUDI KASUS STAGNASI INOVASI PRODUK TUPPERWARE INDONESIA (2024–2025)
Kata Kunci:
Terdiri Dari 3-5 Kata Kunci Yang Dipisahkan Oleh Tanda Titik Koma (;), Juga Ditulis Dalam Bahasa Inggris, Font Size 10 Dengan Jenis Font LustriaAbstrak
Penelitian ini menganalisis R&D Investment Gap sebagai faktor determinan di balik stagnasi inovasi produk dan keruntuhan operasional Tupperware Indonesia pada 2024–2025 dalam perspektif manajemen operasional. Menggunakan rancangan kualitatif dengan metode studi kasus tunggal, data dikumpulkan melalui studi dokumentasi sistematis terhadap laporan media daring, artikel jurnal ilmiah terindeks Scopus dan Sinta, serta working paper lembaga riset independen. Analisis isi kualitatif diterapkan dengan triangulasi sumber dan triangulasi teoretis menggunakan kerangka manajemen operasional dan manajemen inovasi. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga temuan utama: (1) Tupperware secara konsisten mengalokasikan anggaran R&D di bawah 1% pendapatan, jauh di bawah rata-rata industri 3-5%, menghasilkan innovation capacity deficit melalui siklus degradasi lima tahap yang self reinforcing; (2) gap tersebut memiliki hubungan kausal langsung dengan tiga kegagalan operasional yang saling memperkuat, yakni ketiadaan inovasi produk berkelanjutan, kegagalan total transformasi digital, dan erosi jaringan distribusi; dan (3) dalam kerangka manajemen operasional, R&D harus diperlakukan setara dengan fungsi produksi dan rantai pasokan sebagai komponen inti yang menentukan kapasitas sistem operasional jangka panjang. Penelitian ini berkontribusi pada konseptualisasi R&D Investment Gap sebagai variabel laten dengan efek non-linear dan titik kritis ireversibel, serta menawarkan kerangka diagnostik lima tahap bagi perusahaan manufaktur konsumer di pasar berkembang.


