ANALISIS PIDATO PRESIDEN PRABOWO SUBIANTO DALAM PERSPEKTIF ANALISIS WACANA KRITIS

Penulis

  • Iyah Parwati Universitas PGRI Semarang Penulis
  • Iyah Parwati Universitas PGRI Semarang Penulis
  • Ika Septiana Universitas PGRI Semarang Penulis

Kata Kunci:

Analisis Wacana Kritis, Kekuasaan, Ideologi, Pidato Politik, Prabowo Subianto

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam perspektif Analisis Wacana Kritis (AWK).  Permasalahan utama yang dianalisis adalah bagaimana wacana politik dari pemimpin tertinggi negara berfungsi sebagai alat kekuasaan, membentuk persepsi publik, dan melegitimasi agenda pemerintah. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif, dengan teknik analisis isi (content analysis) terhadap kalimat-kalimat yang merupakan isi dari pidato Presiden Prabowo dengan judul "Presiden Prabowo Buka-bukaan Depan Kapolri: Saya Tak Mau Basa-basi, Polisi Selalu Dijelek-jelekkan...". Data dikumpulkan melalui metode simak dan tulis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pidato tersebut adalah praktik pengelolaan kekuasaan yang kompleks dan multidimensional. Analisis tiga dimensi Fairclough menemukan: Dimensi Linguistik: Penggunaan metafora kuat (kekayaan sebagai "darah") dan gaya bahasa otoritatif untuk menekankan urgensi isu kebocoran kekayaan negara. Dimensi Praktik Diskursif: Menggabungkan genre resmi dengan dialog informal untuk menyampaikan pesan sensitif dan intertekstual dengan doktrin "polisi rakyat" Dimensi Praktik Sosial: Digunakan untuk menegaskan kekuasaan, merehabilitasi citra institusi kepolisian dengan mengalihkan kritik ke kesalahan individual , serta mereproduksi ideologi Nasionalisme Ekonomi dan Hukum dan Ketertiban (Law and Order). Pidato Presiden Prabowo secara strategis mengendalikan narasi negatif, menegaskan prioritas utama pemerintahannya (melawan kebocoran kekayaan negara), dan memperkuat legitimasi institusi keamanan.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-13