STANDARISASI PARAMETER SPESIFIK DAN NON SPESIFIK SIMPLISIA DAUN DARAJU (Acanthus ilicifolius L.) SEBAGAI BAHAN BAKU OBAT TRADISIONAL
Kata Kunci:
Acanthus Ilicifolius, Daraju, Simplisia, Standarisasi, Skrining FitokimiaAbstrak
Daraju (Acanthus ilicifolius L.) merupakan tumbuhan mangrove sejati famili Acanthaceae yang secara turun-temurun dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai obat tradisional untuk hepatitis, asma, rematik, penyakit kulit, dan sebagai antibakteri. Sebelum dikembangkan menjadi sediaan fitofarmaka, mutu simplisia daun daraju perlu distandarisasi sesuai Farmakope Herbal Indonesia (FHI) Edisi II Tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan parameter non spesifik (kadar air, susut pengeringan, kadar abu) dan parameter spesifik (kadar sari larut air dan larut etanol), profil kromatografi lapis tipis (KLT), serta golongan senyawa fitokimia simplisia daun daraju. Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi dilanjutkan sokletasi menggunakan pelarut etanol 96%. Hasil penelitian menunjukkan kadar air 10% (syarat ≤19%), susut pengeringan 0,32% (syarat ≤10%), dan kadar sari larut air 9% (syarat ≥7,9%) serta kadar sari larut etanol 7,6% (syarat ≥6,4%) telah memenuhi persyaratan FHI. Sebaliknya, kadar abu total terukur 26%, jauh melampaui batas maksimum 6,5%, sehingga parameter ini belum memenuhi standar dan mengindikasikan perlunya perbaikan pada tahap pencucian maupun sortasi bahan baku. Skrining fitokimia menunjukkan hasil positif untuk alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin, serta hasil negatif untuk terpenoid. Profil KLT ekstrak etanol dengan eluen n-heksana:etil asetat:metanol (2:2:6) menghasilkan tiga noda dengan nilai Rf 0,4625; 0,675; dan 0,7375. Secara umum, simplisia daun daraju dari hasil budi daya pot memenuhi sebagian besar parameter mutu FHI, namun kadar abu yang tinggi menunjukkan perlunya optimasi proses pascapanen sebelum simplisia ini direkomendasikan sebagai bahan baku sediaan herbal.


