FAKTOR PENYEBAB DAN STRATEGI MENGATASI MISKONSEPSI PADA PEMBELAJARAN IPA/IPAS DI SEKOLAH DASAR: STUDI LITERATUR
Kata Kunci:
Miskonsepsi, IPA/IPAS, Sekolah Dasar, Tes Diagnostik, Strategi PembelajaranAbstrak
Miskonsepsi dalam pembelajaran IPA/IPAS di sekolah dasar masih menjadi permasalahan yang memengaruhi pemahaman konsep ilmiah peserta didik. Miskonsepsi terjadi ketika siswa memahami konsep yang tidak sesuai dengan konsep ilmiah sebenarnya akibat pengalaman sehari-hari, proses pembelajaran yang kurang optimal, maupun keterbatasan pemahaman konseptual. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk miskonsepsi, faktor penyebab, instrumen identifikasi, serta strategi mengatasi miskonsepsi pada pembelajaran IPA/IPAS di sekolah dasar melalui studi literatur. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari berbagai artikel ilmiah nasional yang dipublikasikan pada tahun 2023–2025 dan relevan dengan topik miskonsepsi pembelajaran IPA/IPAS di sekolah dasar. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan penelusuran literatur, sedangkan analisis data menggunakan analisis isi (content analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa miskonsepsi masih banyak ditemukan pada materi gaya gravitasi, gaya dan gerak, sifat-sifat cahaya, tumbuhan, perubahan wujud zat, serta iklim dan perubahan iklim. Faktor penyebab miskonsepsi meliputi faktor internal berupa prakonsepsi siswa, keterbatasan memahami konsep abstrak, dan rendahnya kemampuan membaca, serta faktor eksternal berupa metode pembelajaran yang masih berpusat pada guru, minimnya media interaktif, dan kurangnya praktik langsung. Instrumen diagnostik seperti two-tier diagnostic test, three-tier diagnostic test, dan Certainty of Response Index (CRI) dinilai efektif dalam mengidentifikasi miskonsepsi siswa. Selain itu, strategi pembelajaran inovatif seperti problem based learning, discovery learning, pendekatan konstruktivisme, penggunaan media visual interaktif, dan eksperimen sederhana terbukti mampu membantu mengurangi miskonsepsi siswa. Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran IPA/IPAS memerlukan pendekatan yang lebih kontekstual, interaktif, dan berpusat pada peserta didik agar pemahaman konsep ilmiah siswa dapat meningkat secara optimal.


