MANAJEMEN ATRAKSI BUDAYA BERBASIS EKOLOGI DALAM UPACARA ADAT MAMPOGAU HANUA: SINERGI ALAM, TRADISI, DAN PARIWISATA DI KARAMPUANG, SINJAI SULAWESI SELATAN
Kata Kunci:
Mappogau Hanua, Karampuang, Atraksi BudayaAbstrak
Upacara Adat Mappogau Hanua di Karampuang, Kabupaten Sinjai, menampilkan hubungan erat antara tradisi, ruang ekologis, dan kehidupan sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem pengelolaan ritual, peran lembaga adat, orientasi ekologis, transformasi budaya, serta keterlibatan pemuda dalam konteks pengembangan atraksi budaya berbasis ekologi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi, dokumentasi, serta wawancara dengan pemangku adat, tokoh masyarakat, dan pemuda Karampuang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan Mappogau Hanua berjalan melalui struktur adat yang kuat dengan mekanisme musyawarah sebagai dasar setiap keputusan penting. Dimensi ekologis tercermin dari penggunaan ruang ritual di hutan ulayat, larangan eksploitasi alam, serta penataan ruang upacara yang mempertahankan kesakralan. Adaptasi terhadap kehadiran pengunjung dilakukan tanpa mengurangi substansi ritual melalui pembatasan akses, ruang observasi, dan pendampingan informasi. Peran pemuda tampil signifikan melalui latihan budaya, dokumentasi digital, pelatihan bahasa Inggris, dan penguatan usaha lokal sehingga mendukung pariwisata yang tidak bertentangan dengan nilai adat. Kebaruan penelitian ini terlihat pada pengembangan model sinergi trilogi alam–tradisi–pariwisata serta formulasi strategi pengelolaan atraksi budaya yang memasukkan dimensi ekologis ritual sebagai prinsip utama pariwisata berkelanjutan. Temuan ini menegaskan bahwa keberlanjutan Mappogau Hanua bergantung pada keseimbangan antara konservasi alam, keaslian tradisi, dan pengelolaan pariwisata yang terkontrol.


