STRATEGI ADAPTASI BAHASA RETORIS DALAM KHOTBAH BAGI GENERASI MUDA DAN MEMPERTIMBANGKAN PENGGUNAAN BAHASA ANAK GEN Z

Penulis

  • Renisa Simamora Universitas HKBP Nommensen Medan Penulis

Kata Kunci:

Bahasa Retoris, Generasi Z, Strategi Khotbah

Abstrak

Generasi Z adalah mereka yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, yang merupakan generasi terbesar di dunia dengan sekitar 32% dari populasi global. Mereka tumbuh di era digital yang sangat dipengaruhi oleh teknologi dan informasi. Komunikasi Generasi Z banyak dilakukan melalui media sosial, yang mengubah cara mereka berinteraksi dengan orang lain dan mendapatkan informasi. Mereka cenderung menggunakan gaya komunikasi yang santai, seperti pesan teks dan emoji. Generasi Z dikenal memiliki pemahaman yang baik tentang teknologi dan cenderung bergantung pada media sosial. Mereka merasa perlu untuk selalu terhubung dengan informasi terbaru, dan ketidakmampuan untuk melakukannya dapat menyebabkan rasa takut kehilangan atau FOMO. Meskipun mereka mampu berkolaborasi menggunakan berbagai alat digital, penggunaan media sosial yang berlebihan bisa berdampak negatif pada kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan etika siber dan penggunaan media sosial yang bertanggung jawab kepada mereka. Karena terbiasa dengan komunikasi yang cepat, mereka membutuhkan respons yang efektif saat berinteraksi. Internet telah menjadi bagian penting dari kehidupan mereka, memfasilitasi bisnis, pendidikan, dan hiburan. Teknologi terbaru seperti 5G memungkinkan konektivitas yang lebih baik dan mendukung berbagai layanan online. Di lingkungan gereja, perbedaan generasi menjadi tantangan. Orang tua merasa Generasi Z memiliki pandangan yang berbeda dan tidak sesuai dengan praktik pelayanan konvensional. Banyak dari mereka yang meninggalkan gereja yang tidak memenuhi kebutuhan mereka. Mengingat populasi Generasi Z yang besar, penting bagi gereja untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan memenuhi kebutuhan mereka. Generasi Z memiliki tiga kebutuhan utama: persahabatan, pengakuan dari orang lain, dan aktualisasi diri. Mereka ingin merasakan keterhubungan, relasi sesungguhnya, dan keterlibatan dalam komunitas. Ketika mendengarkan khotbah, mereka mengharapkan pesan yang inklusif, otentik, berdampak, dan mengedepankan hubungan antarumat. Jika khotbah tidak memenuhi harapan tersebut, maka mereka tidak akan tertarik untuk mendengarkannya.

Unduhan

Diterbitkan

2025-11-13