VARIASI FONOLOGIS DAN LEKSIKAL BAHASA KERINCI ISOLEK SIULAK, SIULAK MUKAI, SIULAK KECIL, SUNGAI BATU GANTIH: KAJIAN DIALEKTOLOGI
Kata Kunci:
Dialek, Dialektologi, Fonologi, Kerinci, Leksikal, FonologisAbstrak
Penelitian ini mengkaji variasi fonologis dan leksikal bahasa Kerinci pada isolek Siulak, Siulak Kecil, Siulak Mukai, dan Sungai Batu Gantih melalui pendekatan dialektologi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk-bentuk variasi bunyi dan kosakata yang muncul antarisolek serta menentukan status kebahasaannya berdasarkan hasil perhitungan dialektometri. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, perekaman, dan pencatatan langsung dari penutur asli pada empat titik pengamatan. Data penelitian berjumlah 417 glos kosakata sehari-hari yang dianalisis menggunakan teknik pilah unsur penentu dan teknik hubung banding, kemudian dihitung tingkat perbedaannya dengan rumus dialektometri. Hasil penelitian menunjukkan adanya 132 glos yang mengalami variasi leksikal dan 124 glos yang mengalami variasi fonologis. Variasi fonologis tampak pada perbedaan realisasi bunyi, misalnya pada glos ‘bagaimana’ yang direalisasikan sebagai /manien/, /manəŋ/, /manein/, dan /manen/, yang menunjukkan perbedaan vokal, diftong, dan konsonan akhir tanpa mengubah makna. Variasi leksikal terlihat pada perbedaan pilihan kata, seperti glos ‘cegukan’ yang diwujudkan dalam bentuk [kno sdu], [səgəguɁ], [kno snawo], dan [səda], yang berasal dari bentuk leksikal berbeda tetapi merujuk pada konsep yang sama. Berdasarkan hasil perhitungan dialektometri, Hasil perbandingan titik pengamatan ditemukan variasi fonologi didapatkan 28 varian atau 6,7% pada TP1-TP2, 28 varian atau 6,7% pada TP2-TP3, 10 varian atau 2,3% pada TP3-TP4, 3 varian atau 0,7% pada TP4-TP1, 8 varian atau 1,9% pada TP1-TP3, dan 28 varian atau 6,7% pada TP4 -TP2. Sementara, variasi leksikal didapatkan 98 varian atau 23,5% pada TP1-TP2, 107 varian atau 25,6% pada TP2-TP3, 77 varian atau 18,4% pada TP3-TP4, 15 varian atau 3,5% pada TP4 -TP1, 75 varian atau 17,9% pada TP1-TP3, dan 91 varian atau 21,8% pada TP4-TP2. Hasil variasi fonologi dan leksikal tersebut menunjukkan setiap TP yang disandingkan dengan TP2 memiliki status kebahasaan perbedaan wicara. Sedangkan TP lain yang tidak disandingkan dengan TP2 memiliki status kebahasaan tidak ada perbedaan. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya dokumentasi kebahasaan Kerinci serta menjadi rujukan dalam kajian dialektologi dan pelestarian bahasa daerah.


