RELASI MUHAMMADIYAH DAN NAHDATUL ULAMA (NU) DALAM KEHIDUPAN BERAGAMA DI BIMA
Kata Kunci:
Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU), Kehidupan BeragamaAbstrak
Relasi Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) dalam kehidupan Beragama di Bima mencerminkan harmoni kehidupan beragama di tengah keberagaman. Meskipun terdapat perbedaan dalam beberapa aspek ibadah, seperti pelaksanaan qunut pada sholat subuh serta penetapan awal puasa dan Idulfitri, prinsip toleransi menjadi landasan utama dalam menjaga kerukunan. Muhammadiyah menekankan pemurnian ajaran Islam, modernisasi pendidikan, dan reformasi, sementara NU lebih mengedepankan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang selaras dengan kearifan lokal. Kedua organisasi ini memiliki kesamaan visi dalam memperkuat ukhuwah Islamiyah, yang diwujudkan melalui kontribusi di bidang sosial, pendidikan, dan kesehatan. Peran Lazismu Muhammadiyah dan lembaga sosial NU terlihat nyata dalam berbagai program pemberdayaan masyarakat, seperti pemberian beasiswa, layanan kesehatan, dan penguatan ekonomi umat. Di sisi lain, kegiatan bersama seperti perayaan hari besar Islam dan diskusi isu-isu sosial menjadi ruang dialog yang mempererat hubungan antaranggota kedua organisasi. Dengan mempromosikan nilai-nilai saling menghormati, inklusivitas, dan moderasi, Muhammadiyah dan NU tidak hanya berhasil mengatasi potensi konflik yang muncul akibat perbedaan pandangan, tetapi juga berkontribusi dalam membangun masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera. Relasi harmonis antara Muhammadiyah dan NU di Bima menjadi model penting dalam mengelola keberagaman beragama. Interaksi yang berbasis pada nilai-nilai keislaman dan kemanusiaan ini menciptakan fondasi kokoh bagi dialog yang konstruktif, memperkuat identitas keagamaan yang moderat, serta menjadikan Bima sebagai contoh bagi pengelolaan pluralitas yang berkeadaban.


