ANALISIS SINEMATIK STANDAR KECANTIKAN PADA TOKOH GLINDA DALAM FILM WICKED
Kata Kunci:
Standar Kecantikan, Film, Sintagmatik, ParadigmatikAbstrak
Wanita tidak memiliki kebebasan terhadap sesuatu yang tampaknya remeh, seperti penampilan fisik, tubuh, wajah, rambut, pakaian dan sebagainya. Adanya tekanan untuk memenuhi standar kecantikan membuat banyak para wanita menginternalisasi standar kecantikan. Berdasarkan data yang dilansir dari penelitian Wolf, tiga puluh tiga ribu perempuan Amerika mengatakan bahwa mereka lebih suka menurunkan berat badan sepuluh hingga lima belas kilo daripada mencapai tujuan lainnya, seperti capaian pendidikan dan ekonomi. Salah satu media yang paling berpengaruh dalam membentuk persepsi publik tentang standar kecantikan adalah film. Tokoh Glinda dalam film Wicked merepresentasikan karakter yang secara visual dan naratif diposisikan sebagai sosok “cantik” menurut standar kecantikan Barat (Western beauty standards). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis standar kecantikan pada tokoh Glinda yang direpresentasikan secara sintagmatik dan paradigmatik dalam film Wicked. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe fenomenologi. Data dikumpulkan melalui observasi secara tidak langsung, dokumentasi berupa buku, jurnal dan situs web, dan audiovisual materials berupa film, audio, gambar digital, dan screenshot. Hasil penelitian menunjukkan makna sintagmatik dalam film Wicked dibentuk melalui susunan struktur naratif film. Kategori sintagma seperti scene, autonomous shot, parallel syntagma, alternate syntagma, dan descriptive syntagma menggambarkan kontras sosial dan emosional konflik antara kecantikan populer dan keterasingan. Makna paradigmatik dalam film Wicked dibentuk melalui kode-kode visual seperti, mise-en-scène, sinematografi, suara, dan editing yang memperlihatkan adanya bahasa visual artistik yang memiliki makna dan tujuan naratif tertentu. Pilihan visual tidak sekedar estetika, tetapi alat politik yang berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial. Penelitian ini merekomendasikan perlunya literasi industri media dan periklanan untuk menampilkan representasi kecantikan yang lebih inklusif dan realitas guna meminimalisir dampak negatif pada citra diri dan kesehatan mental penonton.


