PENAFSIRAN ISTI’FAF DALAM AL-QUR’AN DAN RELEVANSINYA DENGAN KEHIDUPAN MODERN (Kajian Tafsir Al-Munir Karya Wahbah Zuhaili)

Penulis

  • Hairullah UIN Imam Bonjol Padang Penulis
  • Arsal UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Penulis

Kata Kunci:

Penafsiran, Isti’faf, Tafsir Al-Munir

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan makna dalam al-Qur’an yang berisikan tentang makna Isti’faf. Para ulama tafsir memberikan pemaknaan yang berbeda terhadap makna Isti’faf termasuk tokoh penafsiran seperti Wahbah Zuhaili. Wahbah Zuhaili dalam kitab tafsir al- Munir membuat penafsiran tersendiri, yaitu Isti’faf adalah menjaga kesucian diri dari tindakan yang tercela dan berupaya menjadi orang yang ‘Afiif. Jika dikaitkan dengan kehidupan modern hari ini, karena kehidupan laki-laki maupun perempuan mendapatkan tempat yang sama, sehingga perempuan memiliki kesempatan untuk bekerja di luar rumah layaknya seorang laki-laki. Hal ini disebabkan perubahan zaman serta adanya tuntutan sosial sehingga membuat perempuan ikut bekerja di luar rumah untuk mencari nafkah. Penelitian ini, merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research) yang bersifat deskriftif kualitatif dengan menggunakan pendekatan metode tafsir maudhu’i. Sumber data yang digunakan berupa primer dan skunder. Hasil penelitian ini: al-Qur’an surah An-Nisa: 6 isti’faf adalah hendaklah menjaga diri dari memakan harta anak yatim. Al-Qur’an surah An-Nur: 30 isti’faf adalah hendaklah bersungguh-sungguh secara optimal dalam menjaga kesucian diri. Al-Qur’an surah An-Nur: 60 isti’faf  adalah mengenakan pakaian yang lengkap dan sempurna adalah lebih baik bagi mereka daripada melepaskan pakaian terluarnya. Bentuk-bentuk perbuatan tersebut seperti ketika menggunakan wewangian ketika keluar rumah atau bepergian, ungkapan bahwa perempuan memakai hijab terserah pada kehendak perempuan tersebut, body exposure yang dianggap biasa sehingga tidak ada lagi batasan antara ikatan laki-laki dan perempuan.

Unduhan

Diterbitkan

2026-01-13